Memetakan Permasalahan Pasok Daging Sapi Indonesia

daging_sapi_pasar

Livestockreview.com, Bisnis. Konsumsi daging sapi di Indonesia masih sangat rendah. Berdasarkan catatan Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), konsumsi daging sapi di Indonesia hanya 2 Kg/kapita/tahun. Banyak hal yang membuat konsumsi daging di Indonesia sangat rendah, salah satunya harga daging sapi yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Harga daging sapi pada minggu ke tiga bulan Nopember 2012, tercatat bergerak naik di kisaran Rp.98.000-Rp.105.000 per kg, lebih tinggi dari kondisi normal semula pada akhir bulan Oktober 2012 antara Rp.65.000-Rp.75.000 per kg.

Harga daging sapi yang terus melonjak disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor pertama, yaitu tidak mencukupinya jumlah sapi potong Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi penduduk Indonesia sehingga impor daging sapi tidak dapat dihindari. Impor daging sapi yang dilakukan pemerintah Indonesia sangat merugikan karena kebijakan terhadap impor dinilai tidak bijaksana.

Dalam fokus grup diskusi ISPI pada akhir Februari lalu, terungkap bahwa kebijakan impor saat ini dilakukan berdasarkan informasi global yang tidak memperhitungkan penyebaran sapi, ongkos transportasi, dan segmentasi pasar, tidak adanya mekanisme dan dasar pembagian kuota yang jelas sehingga berakibat pada terciptanya monopoli pasar yang tidak berkomitmen pada pembangunan industri sapi di Indonesia.

Hal ini mengakibatkan de-industrialisasi yang berakibat pada ditutupnya rumah potong hewan (RPH) serta menyusutnya industri feedlot, menguntungkan importir daging sapi dan eksportir daging di Australia, dan rawan terhadap penyimpangan pelaksanaan target swasembada apabila dilakukan tanpa kedisplinan dan konsistensi kebijakan pemerintah.

Faktor kedua adalah pemberdayaan peternak sapi potong tidak dilakukan dengan baik, hal ini diketahui dari banyaknya peternak sapi potong di Indonesia yang hanya memiliki ternak dalam jumlah sedikit dan hanya berorientasi pada harga pasaran bukan pada pembangunan peternakan yang berkelanjutan.

Orientasi pada harga pasar yang dimaksud adalah peternak hanya akan membeli sapi dengan harga tertentu lalu menjualnya jika harga di pasaran lebih tinggi walaupun belum dimiliki dalam waktu lama.

Faktor yang ketiga adalah perhitungan kebutuhan konsumsi daging sapi di Indonesia yang tidak menyeluruh. Maksud dari tidak menyeluruhnya perhitungan konsumsi di Indonesia, yaitu perhitungan kebutuhan konsumsi hanya dilakukan untuk penduduk Indonesia saja, dan tidak termasuk wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia.

Faktor keempat adalah perhitungan stok sapi potong di Indonesia yang tidak sama antara satu lembaga dengan lembaga yang lain serta stok sapi yang terhitung tidak memiliki kejelasan umurnya sehingga tidak diketahui sapi yang siap potong.

Seperti contoh, PSPK dan KPSI mengumumkan stok sapi yang berbeda, data sapi potong yang dikeluarkan PSPK sebanyak 14.83 juta sedangkan menurut KPSI stok sapi potong di Indonesia sebanyak 16.8 juta yang menunjukkan angka yang cukup untuk swasembada daging sapi.

Selain keempat faktor utama tersebut, faktor lainnya disebabkan oleh pola pikir masyarakat akan gizi yang masih rendah sehingga gizi untuk tubuh bukan menjadi prioritas utama.

follow our twitter: @livestockreview

penulis: sy1f4 | editor: soegiyono

About the author

Livestockreview.com didedikasikan untuk turut memajukan industri peternakan dan produk hasil olahannya di tanah air. Diasuh oleh para ahli di bidangnya, Livestockreview.com menjadi ajang update informasi bagi para pelaku bisnis dan industri peternakan Indonesia.