Menggagas Moda Transportasi Ternak

moda

Livestockreview.com, Bisnis. Moda transportasi merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan alat angkut yang digunakan untuk berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain. Istilah Moda transportasi ini juga dipakai untuk transportasi hewan/ternak. Catatan pertama transportasi hewan ternak melalui laut terjadi pada tahun 1607, di Inggris untuk mengangkut hewan ternak dan daging ke Plymouth dan Philadelphia.

Hal itu mengemuka dalam Seminar Moda Transportasi Ternak yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI) dan Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) di Nusa Dua Convention Center, Bali pada 6 Juni lalu.

Dalam acara itu, hadir sebagai pembicara kunci adalah Dirjen Peternakan Syukur Iwantoro. Ia mengatakan, transportasi ternak dengan menggunakan alat angkut darat tercatat dimulai pada tahun 1800 an, pada saat Texas mengawali ekspor hewan ternaknya dengan memanfaatkan kereta rel jalur Kansas Pacific Railway menuju Chicago. Sapi-sapi tersebut dikirimkan kepada pemelihara, industri pemrosesan dan pengepakan daging dengan menggunakan gerbong yang didesain secara khusus untuk mempertahankan atau meningkatkan berat sapi selama perjalanan dan mengurangi risiko kematian sapi.

Pengiriman ternak menggunakan truk baru dimulai pada pertengahan abad ke 20 dengan menggunakan trailer berpendingin untuk memudahkan. Pengiriman melalui jalur non-rel hanya dilakukan untuk keperluan khusus, misalnya untuk digemukkan di tempat lain, pelelangan/perdagangan, atau yang lainnya.

Pengiriman hewan ternak melalui rel, perlahan menghilang hingga akhirnya benar-benar berhenti di tahun 1889 dan transportasi berpendingin lebih banyak digunakan oleh industri daging dalam melakukan pengiriman jarak jauh. Hal ini menjadikan pengiriman hewan hidup menjadi tidak lagi ekonomis dibandingkan pengiriman daging.

Diakui transportasi hewan ternak juga merupakan hal yang cukup beresiko bagi hewan ternak dan industri hewan ternak karena mengakibatkan loss dari produksi total. Resiko tersebut diantaranya berupa stres, hilangnya pengendalian diri dari hewan ternak, sesak napas, dehidrasi, keracunan, kelelahan, luka akibat kondisi transportasi yang kurang baik atau perkelahian antar sesama hewan ternak, hingga gagal jantung.

Namun untuk kondisi Indonesia saat ini tidak dapat dipungkiri kita masih perlu untuk mentransportasikan ternak dalam upaya distribusi dan pemasaran ternak sapi dalam mendukung penyediaan sapi bakalan dan daging bagi daerah konsumen.

Akan tetapi tentu saja dengan tetap memperhatikan aspek kesejahteraan hewan dalam tahap-tahap transportasi ternak mulai dari penyediaan sarana dan fasilitas, sumber daya manusia yang terlatih dalam menangani ternak serta regulasi untuk mendukung penerapan aspek kesejahteraan hewan.

follow our twitter: @livestockreview

penulis: and4ng  | editor:suparno

About the author

Livestockreview.com didedikasikan untuk turut memajukan industri peternakan dan produk hasil olahannya di tanah air. Diasuh oleh para ahli di bidangnya, Livestockreview.com menjadi ajang update informasi bagi para pelaku bisnis dan industri peternakan Indonesia.